My life, My journey

Asfarina Prihandini - Underneath the sky. Standing on earth.
Posts I Like

kuntawiaji:

Suatu ketika ada seorang shaleh yang melewati batu kecil yang mengeluarkan air terus-menerus. Orang shaleh itu heran melihatnya. Allah kemudian menjadikan batu itu dapat berbicara. Kata batu itu, “Sejak aku mendengar QS. At Tahrim ayat 6 dan QS. Al Baqarah ayat 24, aku selalu menangis karena takut kepada-Nya.” Mendengarnya, orang shaleh tersebut menjadi ikut menangis bersama batu tersebut.

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu." (QS. At Tharim: 6)
"…peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir." (QS. Al Baqarah: 24)

Orang shaleh itu kemudian berdoa agar ia dan batu itu diselamatkan dari api neraka. Dan Allah mengabulkan doanya.

Dan semoga Allah juga mengabulkan doa kita jika kita berdoa hal yang sama.

Yaa Allah, tidak ada yang namanya kebetulan. Entah kenapa sering sekali ditunjukkan ayat ini, At Tahrim:6. Biidznillah, semoga bermanfaat untuk yang lainnya juga… :)

Hari ini, saat melihat draft tumblr beberapa bulan lalu, yang saya udah lupa pernah nge-draft itu, akhirnya saya bisa tertawa, juga mengulum senyum. Hahahaha. Konyol sekali. Bukan apa-apa, sekedar mensyukuri kehidupan kemarin, juga sekarang. Oh iya, setahu saya, kenangan tidak bisa menyakiti seseorang. It’s true! dan seperti itulah seharusnya. :)

Nama yang diberikan orang tua itu, hanya nama sederhana,kita sendiri yg bisa membuat nama yg sederhana itu menjadi berharga #pagi
(via zahidhdr)

Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang betapa dalam perasaan seseorang? Karena dalamnya tidak untuk kita ukur, tidak pula untuk kita salahkan.


Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang bertapa berat hidup seseorang? Karena hidupnya sudah terlalu banyak pertanyaan tentang dirinya sendiri, tugas kita adalah menemani.


Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang rahasia hati seseorang, nama yang disimpan rapat di hatinya. Karena dia telah berusaha kerasa untuk menyimpannya, siapa kita merasa berhak memaksanya bercerita.


Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang keburukan seseorang. Karena setiap manusia itu bersalah, mengapa kita tidak bertanya tentang keburukan kita sendiri.


Bisakah kita tidak bertanya-tanya tentang orang lain. Dan mulai bertanya tentang diri sendiri. Sudah seberapa jauh langkah yang kita buat. Bila sudah jauh, berapa banyak langkah yang berarti. Apakah perjalanan jauh ini hanya sekedar jauh, tidak bertujuan? Apakah perjalanan ini hanya membuang waktu dan tenaga, tanpa tahu kemana arah yang dituju? Apakah perjalanan ini hanya akan berakhir sia-sia.

Bandung, 5 Oktober 2014 | (c)kurniawangunadi

Bagi orang tua, walaupun anaknya sudah punya anak, tetap saja, mereka mengingatkan ini-itu dan menasehati anaknya. Biar anaknya lebih baik dari mereka.

Walaupun anaknya sudah punya anak dan anaknya itu sudah punya anak, tetap saja, mereka merindukan anaknya. Dan berharap anaknya juga merindukan mereka.

Dan bagi orang tua, ketika sudah tidak mampu berbuat apa-apa, tetapi anak-anaknya selalu ada walau sekedar datang bergantian setiap hari untuk ada disekitarnya itu….. Duh, manisnya….

Lekas sembuh, mak. Alhamdulillah, anak-anak mak inspiratif semua, jadi, bude, pakde dan bulik-ku mantab semua. 7 lagi. Pas sama hari dalam seminggu. hehe.

Masih susah beradaptasi dengan peristiwa belakangan ini, juga keputusan belakagan ini. Menulisnya pun tanganku dingin.

Yasudah, Baik-baik ya..disana..

kuntawiaji:

Mulai kurikulum berbasis kompetensi, anak FK, setelah dilantik jadi dokter, pasti akan mengalami masa abu-abu bernama internship, yaitu bertugas di puskesmas dan rumah sakit daerah di bawah supervisi seorang dokter umum. Masalahnya adalah dalam setahun, akan ada banyak waktu luang yang dimiliki oleh seorang dokter internship, yang kalau ga dimanfaatkan akan terbuang sia-sia. Memang ada tugas yang harus dilakukan dokter internship di samping tugas rutin harian, yaitu mengumpulkan 400 kasus, membuat laporan kasus, dan mini project. Tapi percayalah, semuanya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan saja. Untuk itu, menyambut akan berakhirnya masa internship saya di Dompu, berikut saya berikan bocoran hal-hal apa aja yang bisa kamu lakukan selagi kamu menghitung bulan menuju selesainya internship.

1. Belajar bahasa daerah

Ini penting banget, apalagi yang internshipnya di daerah antah berantah. Seperti saya, misalnya. Saya lahir dan besar di Jakarta dan bahasa daerah hanya bisa bahasa jawa pasif, tapi dapet internshipnya di Dompu, yang bahasa sehari-harinya adalah bahasa Mbojo. Jadi ga jarang saya kesulitan dalam komunikasi dengan pasien dan ujung-ujungnya minta bantuan perawat sebagai penerjemah. Teman-teman saya, setelah ditempa secara otodidak selama hampir setahun, sudah jago-jago bahasa Mbojonya, mulai dari bahasa sehari-hari tentang keluhan pasien, sampai bahasa kasar dan slang-nya.

2. Belajar masak

Ini dilakukan terutama sama cewek-cewek. Untungnya adalah cewek masaknya banyak, tapi makannya dikit. Kalau kita yang cowok-cowok sih senang, kerjaannya tinggal nyicipin hasil masakannya. Nyicipin sampe habis.

3. Apply Beasiswa

Buat yang mau sekolah lagi, bisa apply beragam penawaran beasiswa yang berserakan di luar sana. Tips dari saya adalah siapkan legalisir ijazah dan transkrip nilai yang banyak sebelum internship, juga jangan lupa tes toefl/ielts. Keputusan ikut tes toefl sebelum internship adalah keputusan yang selalu saya syukuri.

4. Ikut Pelatihan/Seminar/Workshop

Selagi waktu memungkinkan (apalagi gratis), ikuti pelatihan sebanyak-banyaknya. Mumpung lagi idle kan. Misalnya pas ke Jakarta bulan lalu, saya ikut ACLS dan ATLS dalam waktu yang berdekatan. Juga di awal tahun ini, saya sempat ikut pelatihan seminggu soal Global Health di Makassar. Gratis, dapet ilmu, dapet kenalan, dapet pengalaman, dapet uang saku pula. PS: Teman-teman saya lainnya lebih gila lagi, ikut acara ilmiah mulai skala lokal, nasional, sampai internasional (seperti Oknum W yang ke Jepang).

5. Jalan-Jalan

Ini ga boleh ketinggalan. Mumpung banyak waktu luang dan masih muda. Apalagi kalau lokasi internship kamu deket sama tempat wisata yang oke. Oknum A, teman internship saya di Dompu, udah menjelajah Flores dari Kelimutu di Ende sampai Labuan Bajo dan Komodo. Atau Oknum D yang internship di Tarakan, bertualang ke Derawan. Kalau lokasi internship kamu ga deket lokasi wisata apapun, coba cari tau lokasi wisata lokal yang belum diketahui banyak orang (baca majalah Tempo edisi khusus 100 surga tersembunyi). Kayak saya misalnya beberapa waktu yang lalu ke Pulau Nisa Pudu yang bagus banget banget dan masih virgin karena belum banyak yang tau. Setelah itu, dengan bantuan Oknum K, teman yang juga wartawan, saya sebarkan pesona Pulau Nisa Pudu ini di tabloidnya. Ujung-ujungnya jadi ikut mendorong ekonomi pariwisata di tempat itu kan.

6. Melakukan Kegiatan Sosial

Bentuknya bisa apa aja, sesuai kebutuhan daerah internship kamu. Misalnya Dompu yang merupakan daerah tertinggal, akses terhadap buku di sini sulit sekali. Makanya saya dan teman-teman sewahana membuat gerakan peduli anak-anak Dompu dengan menampung buku dan mainan anak kiriman teman-teman di Pulau Jawa untuk disalurkan ke anak-anak di sini. Kita juga bikin buka puasa bersama anak-anak yatim di Dompu. Semuanya murni inisiatif dokter internship loh.

7. Bersahabat dengan penduduk lokal

Di Dompu saya bersahabat dengan Oknum D, tukang buah depan RS; dan Oknum A, tetangga dan jamaah satu masjid. Punya sahabat lokal menurut saya penting karena kita kan menumpang di daerah orang lain, jadi pasti akan butuh banyak bantuan selama setahun ke depan. Misalnya saja, dari mereka saya sering mendapat bantuan kiriman makanan, bisa minta tolong dianterin ke suatu tempat, sampai bisa membeli madu kualitas oke dengan harga murah (Dompu/Sumbawa terkenal akan madunya).

8. Mengajar

Ini ga semua orang suka ya. Tapi, kalau saya pada dasarnya suka ngajar dan emang udah sering ngajar dari kecil. Kebetulan pas internship ini, saya ada kesempatan ngajar di sebuah STIKES di Dompu sebagai dosen tidak tetap untuk mata kuliah anatomi. Di IGD pun, sambil tugas jaga, saya dan teman-teman suka ngajar membaca dan berhitung ke anak kecil yang tinggal di sekitar RS.

9. Nyicipin berbagai makanan lokal

Ini buat yang suka makan ya. Sayangnya saya orangnya picky eater. Oknum S yang suka makan, jadi punya banyak referensi makanan lokal karena internship di Dompu. Saya juga nemu warung penjual nasi kuning terenak di dunia ya karena internship di Dompu ini.

10. Mengenal budaya lokal

Caranya bisa dengan berpartisipasi aktif kalau ada kegiatan budaya. Di Dompu, misalnya, suka ada arak-arakan budaya di jalan. Hampir tiap bulan selalu ada kayaknya. Kita bisa sekedar nonton, atau kayak Oknum R yang sempat ikut jadi peserta arak-arakan juga. Pas kegiatan pelatihan di Makassar, ada gala dinner yang mewajibkan peserta memakai baju adat asal daerahnya masing-masing. Meskipun bukan orang Dompu, saya akhirnya memutuskan memakai baju adat Dompu. Kapan lagi coba memperkenalkan budaya Dompu ke orang banyak.

11. Mengasah hobi

Buat yang cowok-cowok bisa bikin tim futsal dan tanding dengan tim lokal. Atau sepedaan seperti saya. Saya pernah sepedaan bareng-bareng melintasi Dompu selama 3 jam menuju pantai (dan itu menyenangkan!). Atau menulis (dalam masa internship, saya sempat menyelesaikan satu naskah dan satu draft tulisan). Atau merajut, seperti yang dilakukan Oknum D.

Selain poin-poin di atas sebenernya masih banyak hal yang bisa kita lakukan selama internship, seperti melakukan penelitian (Oknum F kabarnya sih begini *tersenyum datar*), ngabisin baca banyak buku, mencari penghasilan tambahan (misalnya Oknum N yang jadi tim medis pekan olahraga tingkat provinsi), melamar kerja (misalnya ikut CPNS), menikah (seperti Oknum M), dan sebagainya. Apakah mungkin dilakukan semua? Mungkin banget kok. Setahun itu lamaaa dan waktu yang kita miliki itu banyaaak. Tapi ya lakukanlah kegiatan yang kamu suka dan memang mungkin untuk dilakukan. Jangan menikah kalau belum ada calonnya, misalnya. :))

Ini ceritanya. gimana ceritaku nanti? :D

baiti-jannati:

A MIND BLOWING TRUTH! 

Details of events in the formation of human has been expressed by someone who unlettered, can not read and can not write 14 centuries ago. Recently confirmed by scientists in the 20th century.

Hopefully more guidance gushing…

QS 96 : 1

QS 96 : 1